menghitung tebal perkerasan

Memuat...

Minggu, 10 Oktober 2010

menghitung tebal perkerasan



BAB IV
PEMBAHASAN
4.1    Analisa Data
4.1.1. Analisa Data Penduduk
Untuk menganalisa laju pertumbuhan penduduk pada suatu daerah pengaruh dapat digunakan metode bunga berganda dengan rumus :
Dimana :  Pn   :    jumlah penduduk pada tahun yang diramal.
                 Po   :    Jumlah penduduk pada awal tahun peninjauan.
                 i      :    Angka pertumbuhan.
                 n     :    jumlah tahun yang dihitung,.
Untuk mendapatkan nilai i (%) pada tahun kedua diperhitungkan dengan rumus :

 
Adapun perhitungan pertumbuhan penduduk dapat dianalisis dengan rumus sebagai berikut :


Keterangan :   i           =   0,80 % = 0,0080, Dari Laju Pertumbuhan Penduduk Rata-
                                        rata.
                        Pn        =   139.429 (1 + 0,0080)1
                                    =   139.429 (1,0080)
                        P2010      =   140.544 jiwa














4.1.2.      Data Lalu Lintas
Data-data tersebut didapat dari survey LHR di lapangan selama 16 (enam belas) jam. pada jalan Tayan. Adapun  jumlah LHR yang di dapat sebagai berikut : 
Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR)
Lokasi Survey             : Kampung Lintang Batang
Waktu Survey             : Kamis,  8 Juli 2010
2 Arah
Tabel 4.3. Lalu Lintas Harian Rata-rata
 












Keterangan :
Untuk Hari  Senin, Selasa dan Rabu dianggap sama dengan hari Kamis.





Lokasi Survey             : Kampung Lintang Batang
Waktu Survey             : Jum’at  9 Juli 2010
2 Arah
Tabel 4.4. Lalu Lintas Harian Rata-rata

Lokasi Survey             :
Kampung Lintang Batang
Waktu Survey             : Sabtu  10 Juli 2010
2 Arah
Tabel 4.5. Lalu Lintas Harian Rata-rata

Lokasi Survey             :
Kampung Lintang Batang
Waktu Survey             : Minggu 11 Juli 2010
2 Arah
Tabel 4.6. Lalu Lintas Harian Rata-rata
 

Tabel 4.8. Lalu Lintas Harian Rata-rata










4.1.3.      Perhitungan Lalu lintas Mingguan Rata-rata
Dari jumlah lalu lintas selama 16 jam per hari dalam satu minggu baru mencapai 93%. Untuk mendapatkan lalu lintas Mingguan Rata-rata yaitu dengan cara banyaknya jumlah kendaraan yang lewat dikalikan dengan faktor koreksi 93%. Pada studi ini pengamatan terhadap lalu lintas dilakukan selama 16 jam dari pukul 06.00-22.00 WIB dari arus lalu lintas selama 16 jam, sehingga dapat diambil faktor koreksinya untuk perhitungan yang digunakan adalah sebesar 93% .
Contoh untuk perhitungan Lalu lintas Mingguan Rata-rata adalah sebagai berikut.
Jumlah kendaraan seminggu      
= ( Jumlah salah satu kendaraan pada hari Kamis x 4 hari ) + ( jumlah pada hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu )
=   (1688x 4) + (1623 + 1660 + 1616) = 11651 kendaraan
Lalu lintas Mingguan Rata-rata
= (Jumlah kendaraan x faktor koreksi)
= 11651 x  = 12528 kendaraan
Tabel 4.7. Perhitungan Lalu lintas Mingguan Rata-rata







4.1.4.      Perhitungan Lalu lintas Tahunan Rata-rata
Dengan mengetahui arus Lalu lintas Bulanan Rata-rata (LBR) dapat dihitung arus lalu lintas tahunan rata-rata (1 tahun). Jika LBR suatu kawasan yang tidak diketahui, maka dapat dugunakan data LBR sebagai persentase lalu lintas bulanan setahun yang dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Dari LHR yang telah dihitung sebelumnya, dan dikalikan dengan faktor presentase lalu lintas bulan setahun kemudian dibagi dengan lamanya hari dalam satu minggu, maka kemudian didapat Lalu Lintas Tahunan Rata-rata (LTR) sebagai Lalu Lintas Harian Rata-rata dalam tahunan yang bersangkutan (LHR). Dalam hal ini survey yang dilakukan pada bulan Juli adalah 111% dari lalu lintas tahunan Rata-rata (LTR). Adapun contoh perhitungan untuk LTR dapat dilihat dibawah ini.
LTR =  x (Faktor koreksi)
Untuk hasil perhitungan selanjutnya dapat di lihat pada Tabel di bawah ini :










Tabel 4.8. Perhitungan Lalu lintas Harian Rata-rata Dalam 1 Tahun






Data LHR dari kantor Direktorat Jendral Bina Marga di atas dipakai untuk mengambil persen perkembangan lalu lintas ( i ) yang terjadi pada tahun 2009 sampai 2010,  sedangkan untuk perhitungan selanjutnya di pakai data LHR dari hasil survey lapangan.

Tabel 4.10.
Data Curah Hujan Harian Maksimum
No
Tahun
Curah Hujan (mm/tahun)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
202
182
171
170
184
189
156
193
191
193

Jumlah
1831
Sumber : Badan Meteologi Klimatologi dan Geofisika
     

Curah hujan rata – rata pertahun :
       183,1 mm/tahun, jadi :
      Curah hujan < 900 mm/tahun
C. Faktor regional
Dikarenakan kondisi jalan datar, maka diambilah kelandaian I, < 6 % untuk   jalan arteri, dengan data curah hujan rata-rata / tahun yang didapat adalah  = 183,1 mm/tahun maka dipakailah iklim I < 900 mm/tahun ,  dan jumlah kendaraan berat yang di dapat :
% kendaraan berat =   x 100% = 28,18 %
Maka dari (tabel 2.5) diperoleh nilai  Faktor Regional 0,5
D.  Menentukan nilai CBR rata – rata
Pertama – tama menetapkan harga CBR yang terendah kemudian tentukan berapa banyak harga CBR yang sama atau lebih. Angka terbanyak dinyatakan sebagai 100%, jumlah lainnya merupakan prosentase dari 100%. Kemudian genetik hubungan antara grafik CBR dan prosentase jumlah tadi, maka nilai CBR rata-rata adalah didapat dari angka persentase 90%.
Data CBR yang diperoleh sebagai berikut :

3,6 – 5,7 – 4,6 – 3,2 – 3,6 – 4,2 – 3,2 – 3,6 – 6,2 – 5,7 – 5,7 – 4,6 – 4,2 – 3,6 – 3,2 – 4,2
Nilai CBR diatas tersebut di susun sebagai berikut :





CBR
3,00
6,00
5,00
CBR = 3,4 %
100
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
4,00

 













Grafik 4.1. CBR Segmen

Dikarenakan nilai CBR untuk tanah dasar atau Subgrade memiliki nilai yang kurang baik dan tidak memenuhi standart , maka digunakanlah nilai CBR untuk tanah timbunan minimum 6 %, maka didalam perhitungan selanjutnya digunkannlah nilai 6 % tersebut.
Nilai 6 % tersebut diambil dari Spesifikasi dan Syarat dari Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga. Untuk tanah timbunan biasa minimal CBR 6 %.

E.  Mencari nilai Daya Dukung Tanah Dasar
DDT
 
10
CBR
100
90
80
    70

1
1
30
40
50
60
9
7
2

2
3
4
5
6
7
 8
9
10
6
5
4
3
8
20
15
10
5
0
GROUP INDEX
20
 
















Gambar 4.2. Korelasi DDT dan CBR
Nilai CBR tanah timbunan = 6 %, maka dari grafik di atas diperoleh nilai DDT = 5,0 %
4.2.  Perencanaan Tebal Perkerasan
4.2.1        Merencanakan
*             Tebal perkerasan untuk jalan 2 lajur 2 arah, data  lalu lintas tahun 2010.
*             UR  = 5 tahun & 10 tahun.
*             Jalan dibuka tahun 2011.
*             i selama pelaksanaan :
keterangan : i di ambil dari data LHR hasil perhitungan dari kantor Direktotat Jendral Binamarga 2009-2010 :
-       MP                                =     4,2 % pertahun
-       Bus                                =     7,3 % pertahun
-       Pick Up                         =     7,2 % pertahun
-       Truck  2 AS (8ton)        =     5,7 % pertahun
-       Truck 2 AS (14ton)       =     29 %  pertahun
-       Truck  3 AS (20ton)      =     33 %  pertahun
4.2.2.      Data-data LHR 2010 Dari Survey Lapangan
-       Mobil penumpang (2 ton), ( 1+1 )       = 936
-       Bus ( 8 ton), ( 3 + 5 )                           = 77
-       Pick Up (1+1)                                      = 262
-       Truck 2 AS (8 ton), ( 3+5 )                 = 327
-       Truk 2 AS (13 ton), ( 5 + 8 )               = 62
-       Truk 3 AS (20 ton), ( 3 + 10 )            = 4
a.      LHR Pada Tahun 2011 (awal umur rencana)
Rumus :             LHR2011         =          LHR2010 x (1+i)n
Ø  MP (1+1) ton    =   936 x (1+0,042)1 = 975 kendaraan

b.    LHR Pada Tahun Ke 5 (akhir umur rencana), tahun 2016
Rumus :             LHR2016         =          LHR2010 x (1+i)n
Ø  MP (1+1) ton    =   936 x (1+0,042)5 = 1,150 kendaraan
c.     LHR Pada Tahun Ke 10 (akhir umur rencana), tahun 2021
Rumus :             LHR2021         =          LHR2010 x (1+i)n
Ø  MP (1+1) ton    =   936 x (1+0,042)10 = 1,412 kendaraan
4.2.3.      Koefisien Distribusi Kendaraan ( C )
Jalan Pontianak – Tayan merupakan jalan dengan 2 lajur 2 arah, untuk kendaraan berat  5 ton koefisien distribusi kendaraan ( C ) = 0,5 dan untuk kendaraan berat  5 ton koefisien distribusi kendaraan ( C ) = 0,5  (tabel 2.3).
4.2.4.      Menentukan harga ekivalen (E) masing-masing kendaraan
Maka harga ekivalen (E) masing-masing kendaraan ( tabel 2.4 )
-          Mobil penumpang (2 ton), ( 1+1 )       = 0,0002 + 0,0002 = 0,0004
-          Bus ( 8 ton), ( 3 + 5 )                          = 0,0183 + 0,1410 = 0,1593
-          Pick Up ( 1+1 )                                   = 0,0002 + 0,0002 = 0,0004
-          Truck 2 AS (8 ton), ( 3+5 )                 = 0,0183 + 0,1410 = 0,1593
-          Truk 2 As (13 ton), ( 5 + 8 )                = 0,1410 + 0,9238 = 1,0648
-          Truk 3 As (20 ton), ( 3 + 10 )             = 0.0183 + 2,2555 = 2,2738
1.    Menentukan Lintas Ekivalen Permulaan (LEP)
Ø  LEP =  LHR 2011 x C x E
Maka dengan rumus di atas :
2.    Menentukan Lintas Ekivalen Akhir (LEA)
Ø  LEA =  LHR 2016  x C x E






Ø  LEA =  LHR 2021  x C x E
3.    Menentukan Lintas Ekivalen Tengah (LET)
LET5      =   ½ (LEP + LEA5)
LET5     =   ½ (82,698 + 180,383)
LET5     =   131,536
LET10     =   ½ (LEP + LEA10)
LET5     =   ½ (82,698 + 557,708)
LET5     =   320,203
4.    Menghitung LER


5.        Mencari harga indeks tebal perkerasan (ITP)
Diketahui :
-          Dikarenakan dari gambar 4.1 dengan nilai yang terlalu kecil CBR 3,4 %, maka digunakanlah nilai CBR untuk timbunan sebesar 6% kemudian dikorelasikan ke grafik DDT, maka didapat nilai DDT = 5,0 %
-          Dari tabel 2.6 indek permukaan pada akhir umur rencana (IPt) untuk klasifikasi jalan arteri, dengan nilai Lintas Ekivalen Rencana LER5 = 65,768 di peroleh IPt = 2, dan untuk Lintas Ekivalen Rencana LER10 = 320,203 diperoleh IPt = 2,0 – 2,5, di ambil 2,0
-          Dari tabel 2.5 diambilah kelandaian I, < 6 % untuk   jalan arteri, dengan data curah hujan rata-rata / tahun yang didapat adalah  = 183,1 mm/tahun maka dipakailah iklim I < 900 mm/tahun ,  dan % kendaraan beran berat= 28,18 %
Maka diperoleh nilai  Faktor Regional =  0,5
                           
6.        Menetapkan Tebal Perkerasan
Ø  Koefisien kekuatan relatif
-          LASTON (MS 744)                           = 0,40 = a1 (tabel 2.8)
-          BATU  Pecah Kelas A (CBR 100)    = 0,14 = a2 (tabel 2.8)
-          SIRTU / Pitrun kelas A (CBR 70)     = 0,13 = a3 (tabel 2.8)
Ø  UR = 5 tahun
ITP = a1 . D1  + a2 . D2 + a3 . D3 Dari (tabel – 2.9) diperoleh :
-          D1 minimum = 5 cm
-            D2 minimum = 15 cm
6,0 = 0,40 . 5 + 0,13 . 15 + 0,13 . D3
-          D3 = 14,61 cm ≈ 15 cm
Ø  Susunan perkerasan
-            LASTON (MS 744)                         =   5 cm 
-            Batu Pecah Kelas A (CBR 100)      =   15 cm 
-            SIRTU / Pitrun kelas A (CBR 70)   =   15 cm
15 cm
   5 cm
15 cm
BATU PECAH (CBR 80)
SIRTU/PITRUN kelas A (CBR 70)
LASTON (MS 744)
Gambar 4.3. Susunan Perkerasan UR5
CBR 6 %
 











Ø   Pelapisan tambahan / overlay
Tebal lapisan tambahan jalan lama 2 jalur, dari data perhitungan lalu lintas 2016 seperti pada perhitungan sebelumnya, dinyatakan dalam umur rencana 5 tahun (UR5), maka susunan lapis perkerasan lama adalah :
LASTON (MS 744)                                  =   5 cm
BATU PECAH kelas A (CBR100)          =   15 cm
SIRTU/Pitrun kelas A (CBR70)               =   15 cm
Akibat dari pertumbuhan lalu lintas yang meningkat pada tahun akhir umur rencana 5 tahun sangat besar, maka dapat di perhitungkan kondisi lapisan permukaan LASTON mengalami crack sedang yaitu sebesar 60 %.


LASTON (744)                               =   60% . 5 . 0,40      =  1,2 cm
BATU Pecah kelas B (CBR 100)    =   100% . 15 . 0,13  =  1,9 cm
SIRTU kelas A (CBR 70)               =   100% . 15 . 0,13 =  1,9 cm
                                                                  ITP ada           =   5  cm

∆ ITP       =   ITP10 – ITP ada
∆ ITP       =   7,3 – 5 = 2,3 cm ≈ 3 cm.

Ø  Menentukan Tebal Lapis Tambahan
Untuk Lapis Permukaan LASTON
∆ITP      =     a1 . D1 + a2 . D2
     3        =     0,40 . D1 + 0,14 . 15
     D1     =      = 2,25 ≈ 3 cm.



BATU PECAH A (CBR 100)
LASTON (MS 744)
SIRTU/PITRUN kelas A (CBR 70)
LASTON (MS 744)
CBR 6 %
Gambar 4.4. Susunan Perkerasan UR10
Overlay
 5 cm
3 cm
15 cm
15 cm
    







11
ITP
P     = 8,16 t
IPt  = 2
IPo   = 3,9-3,5
15
LER
NOMOGRAM 4
3
4
11
12
13
14
15
3
2
DDT=5,0
LER5 = 65,768
FR = 0,5
ITP= 7,3 (1) dan (2)
Dari ITP dan (3)→ ITP = 6.3

FR
6
5
6
7
8
9
10
5,0
1,0
0,5
2,0
14
13
12
10
4
3
9
8
7
6
5
ITP=6,0 (1) dan (2)
LER10 = 320,203
Dari ITP dan (3) →ITP = 5,2
0,5
1
5
10
50
100
500
1000
5000
10000
DDT
1
2
9
10
3
4
5
7
8
Gambar 4.5. Nomogram Index Tebal Perkerasan (ITP)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar